Kartika Podcast Episode 7 Tahun 2025 : Peran Orang Tua Dalam Pergaulan Anak (Parenting Pre-Teens)

Kartika Podcast Episode 7 Tahun 2025 menghadirkan tema menarik seputar “Peran Orang Tua dalam Pergaulan Anak (Parenting Pre-teens)”, sebuah topik yang relevan dengan tantangan keluarga modern dalam mendampingi anak memasuki masa praremaja.Episode ini menghadirkan narasumber Ibu Zeni Afrilya, S.Psi., M.Psi, Psikolog istri dari Lettu Czi Joni Efendi. Diskusi ini dipandu oleh dua host, yaitu Ibu Like Galih, istri dari Letkol Inf Galih Bramantyo, S.E., M.Si., serta Ibu Intan Romadhon, istri dari Sertu Ahmad Romadhon. Dengan gaya penyampaian yang hangat namun tetap mendalam, podcast ini membahas bagaimana orang tua dapat berperan aktif dalam membimbing anak-anak praremaja menghadapi perubahan fisik, emosional, dan sosial yang mereka alami. Yuk, mari kita bahas lebih lanjut.

Tahapan Perkembangan Anak : Fondasi yang Harus Dipahami Orang Tua

Ibu Zeni menekankan pentingnya orang tua memahami bahwa setiap fase perkembangan anak memiliki kebutuhan berbeda. Perjalanan anak dimulai sejak masa prenatal, berlanjut ke masa kanak-kanak, praremaja, remaja, dewasa, lansia, hingga kematian. Pada setiap tahap, kebutuhan anak berbeda dan peran orang tua harus menyesuaikan.

  • Masa Prenatal
    Kesehatan fisik dan emosional ibu hamil sangat memengaruhi perkembangan janin. Ibu yang stres atau memendam masalah dapat berdampak pada kondisi psikologis anak kelak.
  • Masa Emas 0-5 tahun
    Fase ini disebut “golden age”. Menurut teori perkembangan otak, pada periode ini 80% jaringan otak anak berkembang pesat. Pada periode ini anak menyerap kasih sayang, perhatian, dan stimulasi dari orang tua. Jika tangki cinta anak tidak terisi penuh pada masa ini, dampaknya bisa terasa pada fase berikutnya, termasuk saat memasuki praremaja.
  • Usia Praremaja (10-12 tahun)
    Masa transisi dari kanak-kanak menuju remaja, penuh perubahan hormon, fisik, dan pencarian identitas diri.

Penting dicatat bahwa jika anak kurang mendapatkan perhatian pada usia dini, hal ini tidak akan bisa terganti. Namun, orang tua masih tetap bisa memperbaikinya melalui evaluasi diri dan keberanian meminta maaf pada anak. Sikap sederhana ini mampu meruntuhkan pikiran negatif anak yang mungkin merasa kurang disayangi.

Masa Praremaja : Perubahan yang harus Didampingi

Praremaja, yang berlangsung pada usia 10–12 tahun, merupakan masa transisi dari kanak-kanak menuju remaja. Pada periode ini, anak mulai menunjukkan perubahan besar, baik fisik, emosional maupun sosial yang kadang membuat orang tua merasa bingung dalam menyikapinya. 

  • Perubahan fisik

Secara fisik, anak mulai menunjukkan tanda-tanda pubertas. Pada anak perempuan, biasanya ditandai dengan pertumbuhan payudara, mulai munculnya bulu halus di beberapa bagian tubuh, hingga datangnya menstruasi pertama. Sedangkan anak laki-laki mulai mengalami perubahan suara, tumbuhnya jakun, dan mengalami mimpi basah. Perubahan-perubahan ini bisa membuat anak merasa canggung atau bahkan khawatir karena tubuhnya tidak lagi sama seperti sebelumnya. Orang tua bisa membantu dengan memberikan penjelasan yang sederhana, menenangkan, dan sesuai usia anak, agar mereka tidak merasa sendirian menghadapi perubahan ini.

  • Perubahan emosional

Selain tubuh, emosi anak juga berubah cukup drastis. Hormon yang berkembang pesat sering membuat mereka lebih mudah tersinggung, cepat marah, atau melawan orang tua. Kadang mereka terlihat seperti tidak bisa mengendalikan diri, padahal sebenarnya mereka sedang belajar memahami emosi yang baru muncul. Dalam situasi seperti ini, orang tua perlu sabar. Alih-alih membentak atau menghukum, cobalah memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya. Dengan begitu, anak belajar bahwa emosi itu wajar, tetapi tetap harus dikelola dengan cara yang tepat.

  • Perubahan Sosial

Secara sosial, anak praremaja mulai lebih banyak melibatkan diri dengan teman sebaya. Mereka mungkin lebih suka menghabiskan waktu bersama teman dibandingkan keluarga. Hal ini adalah bagian normal dari proses kemandirian. Anak sedang berlatih membangun identitas dirinya melalui interaksi dengan orang lain. Namun, orang tua tetap berperan penting sebagai tempat kembali yang aman. Menjalin komunikasi yang hangat dan terbuka akan membuat anak merasa nyaman untuk tetap bercerita tentang pengalaman sosialnya.

Peran Orang Tua di Masa Praremaja

Masa praremaja memang penuh tantangan, tetapi juga bisa menjadi kesempatan emas bagi orang tua untuk membangun hubungan yang lebih kuat dengan anak. Kuncinya adalah pemahaman, kesabaran, dan komunikasi yang sehat. Jangan menekan anak secara berlebihan ketika mereka menunjukkan gejolak emosi atau ingin lebih mandiri. 

Sebaliknya, dampingi mereka dengan penuh perhatian. Dengan sikap orang tua yang bijak, masa transisi praremaja tidak hanya akan dilalui dengan baik, tetapi juga menjadi fondasi kokoh bagi anak untuk memasuki masa remaja dengan lebih percaya diri dan sehat, baik secara fisik maupun emosional.Orang tua diingatkan untuk tidak menekan anak secara berlebihan. Alih-alih memarahi, lebih baik memahami bahwa gejolak emosi adalah bagian dari proses tumbuh kembang

Tantangan Zaman dulu dan Sekarang dalam Parenting

Setiap zaman memiliki tantangan tersendiri dalam mendidik anak. Cara parenting yang dianggap efektif di masa lalu tidak selalu relevan untuk diterapkan sepenuhnya pada masa sekarang. Namun, ada nilai-nilai baik yang bisa diambil dan disesuaikan dengan kondisi saat ini.

  1. Parenting di Masa Lalu. Dahulu, lingkungan sosial jauh lebih terbuka dan penuh kebersamaan.
  • Peran lingkungan: Orang tua tidak merasa keberatan jika anaknya diingatkan oleh tetangga atau orang dewasa lain. Ada rasa percaya bahwa semua orang di sekitar ikut bertanggung jawab atas tumbuh kembang anak.
  • Kebiasaan di rumah: Anak-anak sejak kecil terbiasa dilibatkan dalam pekerjaan rumah, seperti menyapu, mencuci, atau membantu memasak. Hal ini membentuk rasa tanggung jawab, kemandirian, sekaligus kebersamaan dalam keluarga.
  • Nilai kebersamaan: Kehidupan sosial lebih kuat. Anak-anak banyak bermain di luar rumah, berinteraksi dengan teman sebaya tanpa banyak distraksi teknologi. Nilai gotong royong, sopan santun, dan kepedulian sosial lebih terasa dalam kehidupan sehari-hari.
  1. Parenting di Masa Sekarang. Kini, tantangan yang dihadapi orang tua semakin kompleks.
  • Menurunnya interaksi sosial: Lingkungan sosial cenderung lebih individualis. Orang tua sering tidak nyaman jika anaknya ditegur atau dinasihati oleh orang lain, sehingga nilai “saling menjaga” mulai berkurang.
  • Perubahan pola bermain: Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget dari pada bermain di luar rumah. Media sosial, game online, dan konten digital menjadi bagian besar dari kehidupan mereka. Hal ini bisa memperkaya wawasan, tetapi juga berisiko menimbulkan kecanduan, menurunnya interaksi sosial nyata, bahkan paparan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan usia mereka.
  • Tuntutan orang tua: Orang tua sekarang dituntut lebih waspada dalam memantau aktivitas anak, terutama di dunia maya. Namun di sisi lain, mereka juga perlu memberi ruang agar anak tetap bisa bersosialisasi, belajar mandiri, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. 
  1. Menemukan Titik Tengah. Meski tantangan berbeda, orang tua masa kini bisa mengambil hikmah dari nilai-nilai parenting di masa lalu, seperti kebersamaan, kerja sama, dan keterlibatan anak dalam kehidupan keluarga. Di saat yang sama, orang tua juga perlu menyesuaikan pola asuh dengan realitas modern, misalnya dengan:
  • Mengajarkan literasi digital sejak dini.
  • Menetapkan batasan penggunaan gawai tanpa menghilangkan kebebasan anak untuk bereksplorasi.
  • Menumbuhkan komunikasi terbuka agar anak nyaman berbagi pengalaman, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Dengan begitu, orang tua tidak hanya melindungi anak dari tantangan zaman, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan hidup yang relevan untuk masa depan.

Menumbuhkan Empati dan Nilai Hidup dari Rumah

Empati tidak hadir secara otomatis dalam diri anak. Ia bukan bawaan lahir, melainkan hasil dari pembiasaan yang ditanamkan sejak kecil. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Zeni, keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Di sinilah nilai-nilai hidup ditanamkan, termasuk empati, kepedulian, dan rasa hormat pada orang lain. Contoh sederhana bisa dimulai dari keseharian. Misalnya, ketika hanya ada satu potong makanan, orang tua bisa mengajarkan anak untuk berbagi dengan saudara. Mungkin terlihat sepele, tetapi kebiasaan kecil ini mengajarkan anak menekan rasa egois dan menumbuhkan sikap peduli. Dari sini, anak belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya didapat dengan menerima, tetapi juga dengan memberi.

Latihan empati di rumah juga bisa muncul lewat hal-hal lain:

  • Mendengarkan cerita anak tanpa menyela. Dengan begitu, anak belajar untuk melakukan hal yang sama pada orang lain.
  • Mengajak anak membantu pekerjaan rumah. Anak jadi memahami bahwa setiap orang punya tanggung jawab yang perlu dihargai.
  • Menunjukkan kepedulian pada lingkungan. Misalnya, mengajak anak membuang sampah pada tempatnya atau membantu tetangga yang membutuhkan.

Ketika empati ditumbuhkan sejak dini, anak akan membawa bekal berharga ini ke dalam pergaulannya di luar rumah. Ia lebih mudah memahami perasaan orang lain, lebih bisa bekerja sama, dan tidak mudah bersikap egois. Dalam jangka panjang, kemampuan ini bukan hanya membantu anak membangun relasi sosial yang sehat, tetapi juga menjadikannya pribadi yang lebih kuat menghadapi tantangan hidup.

Pada akhirnya, menumbuhkan empati tidak selalu membutuhkan cara besar atau rumit. Justru lewat hal-hal sederhana dan konsisten dari rumah, anak bisa belajar tentang nilai kemanusiaan yang paling mendasar: peduli pada sesama.

Teman Sebaya dan Kecemasan Orang Tua

Masa praremaja adalah saat anak mulai memperluas lingkaran pergaulannya. Jika sebelumnya anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, kini teman sebaya menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Melalui interaksi dengan teman, anak belajar mengenali dirinya, memahami aturan sosial, dan mengasah keterampilan bersosialisasi.

Namun, perubahan ini sering menimbulkan kecemasan bagi orang tua. Tidak jarang muncul rasa khawatir ketika anak mulai dekat dengan teman yang belum dikenal baik. Bahkan, ada kalanya orang tua secara sepihak menolak anak berteman dengan individu tertentu hanya karena “perasaan tidak enak” atau takut anak terpengaruh hal buruk.

Kekhawatiran ini wajar, karena setiap orang tua tentu ingin melindungi anaknya. Tetapi, jika berlebihan, sikap tersebut bisa berdampak negatif. Anak mungkin merasa terkekang, tidak dipercaya, bahkan bisa memilih untuk berbohong demi tetap menjalin pertemanannya. Akhirnya, hubungan orang tua dan anak justru menjadi renggang. Menurut Ibu Zeni, kunci utamanya adalah kepercayaan dan komunikasi terbuka. Orang tua sebaiknya berusaha mengenal teman-teman anak dengan cara yang wajar, misalnya mengundang mereka main ke rumah atau sekadar menyapa saat menjemput di sekolah. Dengan begitu, anak merasa bahwa orang tuanya hadir dan peduli, tetapi tidak mengawasi dengan cara yang membuatnya tertekan.

Lebih jauh, orang tua juga bisa menjadikan momen ini sebagai sarana untuk menanamkan nilai. Misalnya, berdiskusi tentang ciri-ciri teman yang baik, bagaimana menghindari pengaruh buruk, atau apa yang bisa dilakukan ketika merasa ditekan oleh teman sebaya. Cara ini jauh lebih efektif dibanding melarang tanpa penjelasan.

Pada akhirnya, teman sebaya memang punya pengaruh besar pada masa praremaja. Tetapi dengan pendampingan yang penuh kepercayaan, anak tetap bisa berteman luas tanpa kehilangan arah, sementara orang tua merasa tenang karena tahu anaknya tidak berjalan sendirian.

Komunikasi Dua Arah dan Peran Ayah – Ibu

Memasuki fase praremaja, cara berkomunikasi dengan anak tidak bisa lagi sama seperti ketika mereka masih kecil. Jika dulu anak lebih mudah diarahkan dengan perintah, kini mereka mulai ingin didengar, dihargai, dan diberi ruang untuk mengutarakan pendapat. Inilah yang disebut dengan komunikasi dua arah. Dengan memberi kesempatan anak untuk berbicara, orang tua tidak hanya menunjukkan rasa hormat, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri pada anak. Mereka merasa pendapatnya berarti, sehingga lebih mudah menerima arahan atau nasihat. Sebaliknya, komunikasi satu arah yang hanya berupa perintah sering kali membuat anak merasa tertekan, bahkan bisa memicu perlawanan.

Selain komunikasi, diskusi juga menekankan pentingnya peran ayah dan ibu yang saling melengkapi. Selama ini, sering muncul anggapan bahwa ayah cukup berperan sebagai pencari nafkah, sementara ibu yang mengurus pendidikan moral dan emosi anak. Padahal, pola pikir ini sudah tidak relevan lagi.

Kehadiran ayah dalam proses parenting memberikan dampak yang sangat besar. Anak yang dekat dengan ayah cenderung merasa lebih aman, terlindungi, dan memiliki sosok teladan yang utuh. Ayah bisa memberikan contoh disiplin, keberanian, serta tanggung jawab, sementara ibu menguatkan sisi empati, kelembutan, dan komunikasi emosional. Jika kedua peran ini berjalan seimbang, anak tumbuh dengan pondasi yang lebih kuat—baik secara emosional maupun sosial.

Maka, dalam mendampingi praremaja, kuncinya adalah kerja sama. Ayah dan ibu perlu berkolaborasi, bukan saling melepaskan tanggung jawab. Dengan komunikasi yang terbuka dan peran yang seimbang, anak akan merasa dihargai, dilindungi, dan siap menghadapi perubahan besar dalam hidupnya.

Kolaborasi dengan Sekolah dan Lingkungan

Dalam mendampingi anak praremaja, orang tua memang memegang peran utama. Namun, tidak semua persoalan bisa diselesaikan hanya di rumah. Ada kalanya anak menunjukkan tanda-tanda perkembangan yang perlu perhatian lebih, misalnya perubahan perilaku drastis, sulit mengendalikan emosi, prestasi menurun, atau justru menarik diri dari pergaulan. Situasi seperti ini sebaiknya tidak dianggap sepele. 

Langkah bijak yang bisa dilakukan orang tua adalah berkolaborasi dengan pihak sekolah. Guru dan konselor (BK) biasanya punya sudut pandang berbeda karena mereka melihat perilaku anak saat belajar dan berinteraksi dengan teman sebaya. Dengan berbagi informasi, orang tua akan mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi anak. Jika masalah dirasa cukup serius, jangan ragu untuk melibatkan psikolog anak. Tenaga profesional ini dapat membantu mencari akar masalah sekaligus memberikan strategi pendampingan yang sesuai. Pendekatan psikologis justru membuat anak merasa lebih nyaman, karena ia bisa bercerita tanpa takut dihakimi. Selain sekolah dan psikolog, dukungan lingkungan sekitar juga berperan penting. Kepedulian tetangga, keluarga besar, atau komunitas bisa menjadi tambahan energi positif bagi anak. Meski zaman sudah berubah, nilai saling menjaga dan gotong royong tetap relevan untuk menghadirkan rasa aman bagi tumbuh kembang mereka.

Dengan kerja sama yang baik antara rumah, sekolah, psikolog, dan lingkungan, anak praremaja akan merasa lebih didampingi. Mereka bisa tumbuh dengan rasa percaya diri, tahu bahwa ada banyak pihak yang peduli, dan siap menghadapi masa transisi menuju remaja dengan lebih sehat.

Refleksi : Menjadi Orang Tua di Era Modern

Dalam Podcast ini Ibu Zeni memberikan pesan penting bahwa menjadi orang tua di era modern bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga soal kehadiran emosional. Anak tidak sekadar membutuhkan makanan, pakaian, atau fasilitas yang lengkap. Lebih dari itu, mereka butuh didengar, dipahami, dan ditemani dalam setiap fase tumbuh kembangnya. 

Tantangan zaman memang semakin kompleks. Kesibukan pekerjaan sering membuat waktu bersama keluarga berkurang, sementara pengaruh digital membawa warna baru dalam kehidupan anak. Namun, semua tantangan ini seharusnya tidak mengurangi kualitas kebersamaan. Justru di tengah derasnya perubahan, keluarga perlu menjadi ruang yang paling aman dan hangat bagi anak. Dengan memahami fase perkembangan praremaja, melatih empati dalam keseharian, membangun komunikasi dua arah, serta menjalin kolaborasi dengan sekolah dan lingkungan, orang tua dapat mendampingi anak melewati masa transisi ini dengan lebih sehat dan bahagia. 

Refleksi ini mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, ukuran keberhasilan orang tua bukan hanya dari apa yang bisa diberikan secara materi, tetapi dari sejauh mana kehadiran dan cinta yang konsisten mampu menguatkan anak untuk melangkah menuju masa remajanya

Sebagai penutup, Ibu Zeni Afrilya, S.Psi., M.Psi menegaskan bahwa mendampingi anak praremaja adalah perjalanan yang penuh tantangan sekaligus kesempatan berharga bagi orang tua. “Orang tua perlu hadir seutuhnya, mengisi tangki cinta anak-anak kita dengan kasih sayang, perhatian, dan komunikasi yang tulus. Jika ada kekurangan di masa lalu, jangan ragu untuk meminta maaf. Anak-anak kita tidak menuntut kesempurnaan, tetapi membutuhkan orang tua yang mau mendampingi, mendengar, dan memahami,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa peran orang tua bukan hanya sebagai pengasuh, tetapi juga sahabat dan teladan bagi anak. Dengan kesabaran, keterbukaan, serta kasih sayang yang konsisten, orang tua dapat membantu anak praremaja tumbuh menjadi pribadi yang matang, tangguh, dan berkarakter baik di tengah tantangan zaman modern.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *