Kenali Gejala Stroke dan Cara Pencegahan

Menurut data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Stroke adalah kondisi medis yang terjadi karena aliran darah pada otak terhenti karena adanya penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah pada otak. Tanpa aliran darah yang cukup, sel-sel otak bisa mati dalam hitungan menit, sehingga dapat menyebabkan kerusakan otak permanen, bahkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat.
Menurut penyebabnya stroke dibedakan menjadi 2, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Jika stroke iskemik disebabkan oleh gumpalan di pembuluh darah, stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak.

Seringkali, gejala dan tanda awal stroke tidak disadari sehingga pasien terlambat dibawa ke rumah sakit dan terlambat mendapat penanganan yang sesuai. Tanda dan gejala awal stroke dapat disingkat dengan Se Ge Ra ke R S yang merupakan singkatan dari :
- SEnyum tidak simetris
- GErak separuh tubuh melemah
- bicaRA pelo
- KEbas separuh tubuh
- Rabun
- Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba.
Muncul tiba-tiba atau mendadak merupakan ciri khas untuk seluruh tanda dan gejala stroke. Gejala Se Ge Ra Ke R S tersebut tidak selalu harus muncul bersamaan. Jika ada satu atau dua gejala yang muncul tiba-tiba, pasien atau keluarga sudah harus waspada. Selain itu, dapat pula ditemui gejala tambahan yaitu pingsan atau kehilangan kesadaran.
Penting diketahui bahwa penanganan stroke harus dilakukan dalam waktu 4,5 jam pertama

(golden period) guna mengurangi risiko kerusakan otak yang lebih parah. Penanganan yang lebih cepat dapat meningkatkan peluang pemulihan secara optimal. Oleh karena itu, jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala stroke, segera bawa ke IGD RS terdekat.
Kondisi stroke dapat kita cegah karena kasus stroke berhubungan dengan faktor-faktor risikonya. Sejumlah langkah berikut dapat dilakukan untuk menurunkan risiko stroke antara lain :
- Kontrol tekanan darah
Hipertensi berhubungan hampir lebih dari setengah kejadian stroke. Kurangi garam (maksimal 1 sendok teh/hari), hindari stres dengan meditasi atau istirahat cukup (7-9 jam/hari), periksa tekanan darah secara rutin, dan minum obat hipertensi dengan resep dokter jika diperlukan.
- Aktivitas Fisik atau Olahraga
Lebih dari sepertiga kasus stroke terjadi pada mereka yang tidak rutin berolahraga. Aktivitas fisik yang dilakukan selama minimal 30 menit dan 5 kali dalam seminggu dapat menurunkan faktor risiko stroke sebesar 25%. Aktivitas fisik tersebut meliputi aktivitas aerobik seperti berjalan, berlari, bersepeda, atau berenang, serta aktivitas penguatan otot seperti gym, yoga, atau pilates.
- Diet sehat dan seimbang
Hampir seperempat kasus stroke berkaitan dengan pola diet yang tidak sehat, terutama konsumsi sayur dan buah yang sedikit. Dianjurkan konsumsi sayuran dan buah-buahan 400-600 gram per hari. Buah-buahan dan sayuran memiliki kandungan tinggi serat dan mikronutrien (vitamin C, folat, magnesium, dan kalium), karotenoid, dan asam fenolat yang dapat menurunkan risiko stroke.
- Menurunkan Kolesterol
Sekitar 1 dari 4 kasus stroke berkaitan dengan kadar kolesterol “jahat” atau LDL yang tinggi. Konsumsi lemak tidak tersaturasi dan tidak terhidrogenasi dibandingkan lemak tersaturasi (digoreng, jeroan) dapat menurunkan risiko stroke. Jika kadar kolesterol tidak turun hanya dengan pengubahan diet, komunikasikan dengan dokter mengenai obat antikolesterol.
- Hentikan merokok dan jauhi paparan asap
Lebih dari 1 dari 10 kasus stroke berkaitan dengan rokok. Ini juga berlaku untuk perokok pasif. Rokok merusak pembuluh darah, memicu penyempitan pembuluh darah arteri (aterosklerosis), dan meningkatkan risiko stroke 2–4 kali lebih tinggi. Nikotin juga menaikkan tekanan darah.
- Menurunkan konsumsi alkohol
Hindari mengonsumsi lebih dari dua gelas alkohol per hari untuk laki-laki dan satu gelas untuk perempuan.
- Diabetes Mellitus
Pada penderita diabetes, risiko stroke akan naik 1,5 kali lipat. Oleh karena itu, jagalah pola makan dan batasi jumlah gula agar terhindar dari diabetes. Menurut World Health Organization (WHO) konsumsi gula tidak lebih dari 10% total kalori (50 gram per hari atau sekitar 4 sendok makan). Bagi yang sudah memiliki penyakit diabetes, perlu mengontrol lebih ketat pola makan dan juga pemberian obat antidiabetes sesuai anjuran dokter.

Pencegahan stroke dimulai dari kesadaran dan kebiasaan sehari-hari. Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap stroke, faktor risiko dan pencegahannya, diharapkan angka kejadian penyakit ini dapat ditekan, sehingga kualitas hidup masyarakat meningkat. Mari terapkan kebiasaan sehat mulai sekarang untuk masa depan bebas stroke!
Sumber :
- Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Gejala dan Tanda-Tanda Stroke.
- World Stroke Organization. Apa alasan Anda untuk mencegah stroke?
- Rustiawati, E. Penanganan Kegawatdaruratan Di Rumah: Serangan Stroke dan Pencegahan Terjadinya Stroke.
