Kartika Podcast : Mengenal Lebih Dekat Wakasad dan Waketum Persit KCK

Pada Kartika Podcast Episode ke-9 kali ini, Kartika Podcast mengusung tema “Mengenal Lebih Dekat Wakasad dan Waketum Persit KCK” dan yang bertugas sebagai Hostnya adalah Ibu Dessy Zamroni, istri dari Letjen TNI Muhammad Zamroni dan Ibu Vika Wahyu Yudhayana, istri dari Brigjen TNI Wahyu Yudhayana, S.E., M.M., serta sebagai narasumber ialah Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Letjen TNI M. Saleh Mustafa dan Wakil Ketua Umum Persit KCK, Ibu Eka M. Saleh Mustafa.

Mengenal Lebih Dekat Sosok Bapak Wakasad, Letjen TNI Saleh Mustafa

Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa lahir pada Tanggal 14 Maret 1969 di sebuah Pulau kecil nan Indah yaitu Ternate, yang dikenal dengan sebutan khas “Round Gunung” atau “Keliling Gunung.” Masa kecilnya penuh dengan warna, Salah satu yang Menarik ialah ketika pada tahun 1975 beliau hijrah ke Jakarta dengan menggunakan kapal Perintis untuk menempuh pendidikan dasar. Selama di Jakarta, beliau bersekolah ganda, pada Pagi Hari bersekolah di Madrasah dan siang harinya di Sekolah Negeri, ia tinggal hanya selama tiga tahun di Jakarta, Karena kenakalan masa kecil akhirnya membawanya kembali ke tanah kelahiranya di Ternate.

Setelah kembali, semangat dan kepercayaan dirinya justru semakin terasah. Beliau mulai berprestasi di sekolah, bahkan selalu menjadi bintang kelas. Saat SMP, beliau dipercaya menjadi Ketua OSIS, sedangkan di SMA ia aktif membentuk komunitas pecinta alam, beraktivitas di alam bebas, hingga tergabung dalam tim vokal grup. Sejak muda, hobinya adalah olahraga, terutama yang menantang seperti bersepeda dan berlari jarak jauh. Selain itu, beliau juga memiliki kegemaran bernyanyi, yang menjadi sisi lain dari kepribadiannya.

Sosok yang paling menginspirasi dalam perjalanan hidupnya adalah ayah beliau sendiri, seorang figur idealis yang menjadi teladan dalam pengabdian. Jejak militernya dimulai saat diterima sebagai Taruna Akademi Militer dan lulus pada tahun 1991. Beliau kemudian menempuh pendidikan kecabangan Infanteri, Suslapa 1, Diklapa 2 TNI AD, hingga melanjutkan pendidikan di Seskoad dan Sesko TNI. Perjalanan panjang ini mengukuhkan beliau sebagai perwira TNI yang tangguh, berintegritas, dan penuh dedikasi.

Riwayat tanda jasa :

• Bintang Kartika Eka Paksi

• Bintang Kartika Eka Paksi Pratama

• Bintang Yudha Dharma Pratama

Riwayat penugasan LN :

• OJT Singapura

• penugasan Korea Selatan

• OJT Pakistan

• OJT USA

• OJT Inggris

• OJT Kamboja, dll.

Riwayat jabatan :

• Danyon 23 G2 Kopassus

• Danseko pusdikpassus

• Waasops Danjen kopassus

• Dangrup 1 parako kopassus

• Asops Kasdam im 

• Danrem 132 Tadulako (Sulawesi tengah)

• Wadan Pussenif

• Kasdam Jayakarta

• Kaskogabwilhan 2

• Pangdam 17 Cendrawasih

• kepala staf Kostrad (2023)

• Pangkostrad

• Irjen TNI

• Wakil kepala staf angkatan darat

• Wakasad (sekarang)

Mengenal Lebih Dekat Sosok Ibu Waketum, Ziska Bayu Prabasari

Screenshot

Ibu Ziska Bayu Prabasari lahir pada Tanggal 7 Februari 1973 di Bandung dari orang tua bersuku Jawa dan Ternate. Sejak kecil, beliau tumbuh di lingkungan TNI AD sehingga terbiasa dengan kehidupan yang dinamis, termasuk sering berpindah domisili dan bersekolah mengikuti penugasan orang tuanya. Meski demikian, pada akhirnya beliau menetap di Bandung hingga menempuh pendidikan tinggi dan bekerja disana.

Masa kecil Ibu Ziska penuh dengan kenangan indah bersama keluarga. Meski kedua orang tuanya sibuk bekerja, mereka selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul saat akhir pekan. Momen piknik sederhana menjadi saat yang paling dinantikan, karena menghadirkan kebersamaan dan kegembiraan yang tak ternilai. Hingga kini, kenangan itu tetap membekas dalam dirinya.

Ibu Ziska juga memiliki makanan favorit, yaitu steak. Hidangan ini bukan sekadar makanan, melainkan menyimpan cerita dan nostalgia tersendiri yang selalu membuat beliau teringat masa-masa berharga. Dalam kehidupan pribadi, beliau dikaruniai dua orang anak, yakni Mozza Permata Sari Mustafa dan Mozzis Raihan Mustafa, yang menjadi kebanggaan sekaligus sumber kebahagiaan dalam perjalanan hidupnya.

Tips Untuk Tetap Harmonis Ala Bapak Wakasad dan Ibu Waketum

Tips untuk tetap harmonis ala Bapak Wakasad dan Ibu Waketum berakar pada prinsip sederhana namun bermakna dalam kehidupan rumah tangga. Kunci utamanya adalah menjaga komunikasi dan pendekatan yang hangat agar tidak ada jarak emosional yang memisahkan. Pasangan juga perlu saling memberi “treatment” yang baik, bukan hanya dalam bentuk perhatian fisik, tetapi juga sikap saling menghargai. Keterbukaan menjadi fondasi penting untuk membangun rasa percaya, sehingga tidak ada hal yang disembunyikan. Dalam perjalanan bersama, suami-istri dituntut untuk saling memahami, mengakui kesalahan satu sama lain dengan rendah hati, serta memiliki kelapangan dada untuk saling memaafkan. Saling pengertian memperkuat ikatan, sementara komitmen menjadi janji yang terus diperbarui setiap hari. Dengan prinsip-prinsip tersebut, keharmonisan bukan sekadar tujuan, melainkan cara hidup yang dijalani bersama.

Persit memiliki peran penting sebagai kekuatan dalam keluarga sekaligus pilar utama dalam kehidupan seorang prajurit. Kekuatan prajurit tidak hanya lahir dari kedisiplinan dan latihan militer, tetapi juga dari fondasi keluarga yang kokoh. Dukungan tulus dari istri dan anak-anak menjadi sumber semangat serta energi yang menjaga keteguhan hati prajurit dalam menghadapi tugas negara. Di balik setiap keberhasilan prajurit, ada keluarga yang setia mendampingi dan memberikan doa. Dalam menjaga keharmonisan keluarga, Hal sederhana seperti meminta maaf dan mengakui kesalahan menjadi kunci untuk menyelesaikan persoalan dengan bijak. Dengan keluarga yang kuat dan hubungan yang saling pengertian, prajurit akan dapat memiliki landasan emosional yang tangguh, sehingga mampu mengabdi dengan sepenuh hati kepada bangsa dan negara.

Perjalanan rumah tangga Bapak Wakasad dan Ibu Waketum penuh dengan cerita berkesan yang membekas hingga kini. Mereka menikah pada tahun 1999, saat beliau masih berpangkat Kapten di Kopassus. Tak lama setelah itu, beliau mendapat promosi jabatan di Grup 2 Solo, sehingga membawa keluarganya untuk pindah ke kota tersebut. Di Solo, keduanya terkesan dengan harga pangan yang murah sekaligus enak, sehingga muncul komitmen untuk lebih rajin menabung demi masa depan keluarga. Kenangan manis juga tercipta setiap masa libur Lebaran, ketika keluarga menyiapkan kendaraan untuk mudik. Bapak Wakasad menata mobil dengan rapi, bahkan membuat tempat tidur di dalamnya agar perjalanan ke Jakarta terasa nyaman. Perjalanan itu pun menjadi pengalaman menyenangkan, terlebih karena mereka saling bergantian mengemudi. Selain itu, selama tinggal di Solo, aktivitas touring dengan mobil menjadi momen kebersamaan yang tak terlupakan.

Dalam perjalanan dinasnya, saat menjabat sebagai Danyon di Bogor, beliau mendapatkan banyak pengalaman berharga. Salah satu yang paling berkesan adalah kesadaran bahwa keterbukaan dan kemurahan hati terhadap anggota akan selalu kembali dalam bentuk kebaikan yang berlipat. Pengalaman inilah yang menjadi pelajaran hidup penting, baik dalam memimpin maupun dalam menjaga harmoni rumah tangga.

Tips Menjaga Keseimbangan Kegiatan Dinas/Organisasi dan Keluarga Ala Bapak dan Ibu Wakasad

Bapak Wakasad dan Ibu Waketum selalu menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kegiatan dinas, organisasi dan keluarga. Prinsip pertama adalah senantiasa menjaga kondisi kesehatan diri, karena tubuh yang sehat menjadi modal utama dalam menjalankan segala tanggung jawab Pengabdian. Selain itu, kebahagiaan juga harus selalu dijaga, sebab hati yang bahagia akan memancarkan energi positif bagi keluarga maupun lingkungan kerja. Mereka juga menekankan pentingnya gotong royong dalam pekerjaan maupun kehidupan rumah tangga, karena kebersamaan membuat segala sesuatu terasa lebih ringan.

Disiplin, kesetiaan, dan profesionalisme menjadi nilai yang tak pernah ditinggalkan, baik di medan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memberikan contoh teladan serta menjaga moral yang baik, Bapak Wakasad dan Ibu Waketum percaya bahwa keseimbangan antara pengabdian kepada bangsa dan keharmonisan keluarga dapat tercapai dengan baik. Bagi mereka, keluarga yang solid adalah fondasi utama untuk melahirkan prajurit yang kuat sekaligus pribadi yang berintegritas.

Makna Persit KCK Bagi Ibu Waketum Persit KCK

Screenshot

Bagi Waketum, Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) memiliki makna yang sangat mendalam dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya. Sejak awal pernikahan, tanggung jawab yang diemban terasa begitu berat, namun justru hal inilah yang menjadi pembelajaran berharga untuk menapaki masa depan dengan lebih matang. Tidak dipungkiri, ada kalanya timbul rasa kesal ataupun kesulitan dalam menjalani dinamika organisasi Persit, namun seiring berjalannya waktu, banyak hikmah yang dapat dipetik. Dari situ lahirlah pemahaman baru tentang cara bergaul, membangun relasi, serta merasakan betapa pentingnya Persit dalam mendukung kehidupan seorang prajurit.

Persit juga berperan sebagai penyeimbang dalam kehidupan militer yang dikenal kaku dan penuh disiplin. Dengan sentuhan kelembutan, kebersamaan, dan nilai kekeluargaan yang ditanamkan, Persit membuat kehidupan prajurit menjadi lebih baik dan harmonis. Inilah makna besar Persit KCK bagi Waketum: bukan sekadarorganisasi pendamping, tetapi pilar yang menumbuhkan kekuatan moral, sosial, dan emosional bagi keluarga prajurit serta menjadi Dasar pengabdian mereka kepada bangsa dan Negara.

Menjadi anggota Persit yang baik bukan hanya tentang mengenakan seragam atau hadir dalam kegiatan organisasi, melainkan bagaimana mampu menumbuhkan sikap tulus dan kebersamaan. Seorang anggota Persit harus senantiasa menjaga keguyuban, membangun suasana yang hangat dan rukun di antara sesama, sehingga terciptalah solidaritas yang kuat. serta Koordinasi yang baik juga menjadi kunci agar setiap program dan kegiatan dapat berjalan dengan lancar juga memberikan manfaat nyata bagi keluarga prajurit.

Kebersamaan adalah jiwa dari Persit. Dengan saling mendukung dan bergandengan tangan, setiap tantangan akan terasa lebih ringan. dan Persit sejati ialah mereka yang selalu senantiasa setia mendampingi suaminya di manapun bertugas karena dapat menjadi sumber kekuatan dan semangat dalam setiap langkah pengabdian. Dengan semangat keguyuban dibarengi dengan koordinasi yang solid dan kebersamaan yang erat maka anggota Persit dapat berperan Penting sebagai pilar utama yang menjaga keharmonisan keluarga sekaligus mendukung tugas mulia prajurit untuk bangsa dan negara.

Pengalaman Bapak Wakasad dan Ibu Waketum Yang Bisa Dibagikan Bagi Generasi Muda Persit KCK

Screenshot

Pengalaman hidup Bapak Wakasad dan Ibu Waketum menyimpan banyak nilai yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Persit. Bagi mereka, prinsip always be happy adalah kunci untuk menghadapi segala tantangan dalam kehidupan. Dengan hati yang bahagia, setiap rintangan terasa lebih ringan dan rumah tangga pun tetap terjaga keharmonisannya. Selain itu, sikap do the best atau selalu melakukan yang terbaik menjadi pegangan penting dalam menjalani peran, baik sebagai prajurit, pendamping, maupun anggota Persit.

Mereka juga menekankan agar jangan pernah menyerah. Dalam kehidupan militer yang penuh dinamika, kesabaran dan keteguhan hati menjadi kekuatan utama. Tak kalah penting, rela berkorban adalah jiwa yang harus dimiliki, karena pengabdian seorang prajurit maupun Persit bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk bangsa dan negara. Dari pengalaman inilah, generasi muda Persit diharapkan mampu meneladani semangat, keikhlasan, dan keteguhan hati Bapak Wakasad dan Ibu Waketum dalam menjalani kehidupan rumah tangga sekaligus pengabdian.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *