Pesanggrahan Kandang Menjangan Grup 2 Kopassus

Di Tengah kokohnya Markas Kopassus Kandang Menjangan Kartasura, berdiri kokoh saksi bisu sejarah dan warisan budaya. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwasanya di dalam markas Kopassus Kandang Menjangan Kartasura ternyata terdapat sebuah bangunan Pesanggrahan yang begitu megah. Pesanggrahan di era keraton Kasunanan Surakarta ini dikelilingi oleh berbagai macam pepohonan rindang, seperti Pohon Tanjung, Mangga Talijiwa, Pohon Bambu Kuning Hijau dan lain-lain, hal tersebut menambah kemegahan dan keasrian Markas Kopassus Kandang Menjangan Kartasura. 

Pesanggarahan yang berdiri sejak era Keraton Kasunanan Suarakarta ini memiliki arti lain yaitu tempat istirahat. Pada zaman dahulu bangunan ini digunakan sebagai tempat peristirahatan raja beserta keluarganya ketika hendak berkunjung ke suatu tempat, untuk ngenggar-enggar maupun berburu.

Sejarah Pesanggrahan

Dimasa penjajahan Belanda pada tahun 1917, Pesanggrahan difungsikan sebagai tempat Pembangunan Benteng dan penempatan sejumlah Pasukan Belanda di Kartasura yang saat itu disebut dengan Serdadu Kompeni. Bangunan tersebut pada awalnya dibuat untuk melindungi Kerajaan Mataram, namun pada kenyataan ini tindakan ini hanya tipu muslihat yang digunakan oleh kompeni untuk memata-matai kegiatan pejabat-pejabat di Keraton Mataram.

Pesanggrahan Tampak Belakang

Kanjeng Sunan Amangkurat menilai bahwa persahabatan antara mataram dan Belanda hanya membuat kerugian pada rakyat dan rasa muncul benci terhadap Belanda, namun hal ini tidak disampaikan secara terbuka sehingga permasalahan ini menjadi api dalam sekam yang sewaktu-waktu dapat membakar api perlawanan terhadap perlakuan sewenang-wenang pihak Belanda terhadap Kaum Pribumi.

Pada suatu waktu Patih Kerajaan Mataram yaitu Nerang Kusumo, mengajak Untung menghadap Kanjeng Sunan. Beliau menceritakan sejarah Untung Suropati. Selanjutnya Nerang Kusumo mohon agar Untung beserta pengikutnya diangkat sebagai Prajurit Mataram. Kanjeng Sunan untuk sementara mengangkat mereka menjadi pasukan khusus pengawal Sri Sunan, supaya Kanjeng Sunan dapat mengetahui dengan jelas kemampuan Untung Suropati sebenarnya. 

Agar Untung Suropati secara lahir batin mengabdi untuk kepentingan Mataram. Nerang Kusumo berniat menjodohkan Untung dengan Gusik Kusumo, kemenakan Sunan Amangkurat jadi, kanjeng patih wajib meminta restu kepada beliau. Kanjeng Sunan setuju dan menyerahkan sepenuhnya kepada Nerang Kusumo, tetapi beliau berpesan agar dapat menjaga rahasia tersebut karena kompeni pasti mengetahui dan datang ke Kartasura untuk menangkap Untung Suropati. 

Pada Tahun 1864 Raden Ayu Gusik Kusumo dan Untung Suropati dinikahkan. Kanjeng Sunan Amangkurat memberikan ganjaran berupa kampung Babirong pada Untung Suropati sebagai tempat tinggal dan persembunyian dari pengawas kompeni. 

Lokasi kampung Babirong berada di sebelah barat daya Kraton Kartasura. Karena kondisinya penuh dengan semak belukar, banyak Babi (celeng) bersarang disana sehingga kampung itu dinamakan Babirong, artinya sarang babi (celeng). Pada jaman Sunan Pakubuwono I, kampung Babirong di ubah fungsinya menjadi PESANGGRAHAN (Tempat Peristirahatan) yang didalamnya dipelihara ribuan Menjangan. Di tempat tersebut juga di bangun Segaran. Kampung Babirong berubah menjadi lahan berburu bagi Raja dan keluarga Bangsawan. Dalam berburu biasanya meraka memasang Grogol (perangkap binatang) sehingga disebut Grogolan. Oleh karena itu, Grup 2 Kopassus dinamakan dengan julukan Kandang Menjangan dan menjadi bukti warisan Budaya Nusantara yang tersembunyi. Selain itu, konstruksi bangunan Pesanggrahan masih menggunakan arsitektur gabungan Eropa Kuno dan Mataram Kuno.

Letak pesanggrahan ini berada di permukaan tanah yang agak tinggi jika dibandingkan dengan tanah sekelilingnya. Pesanggrahan yang menghadap ke arah Utara ini terdiri dari 3 bangunan, yaitu bangunan utama dan 2 bangunan pendamping yang terletak di sebelah Timur dan Barat bangunan utama. Bangunan di sebelah Timur terdiri dari 3 ruangan di sebelah depan, diikuti 4 ruangan di sebelah belakang yang berfungsi sebagai 2 kamar mandi dan 2 gudang.

Untuk nama pesanggrahan ini belum ada orang pun yang mengetahuinya, bahkan kopassus sendiri pun tidak mengetahuinya. Adapun bangunan sebelah Timur tertera angka tahun 1917 dan bangunan sebelah Barat tahun 1918, dimungkinkan bahwa bangunan tersebut dibangun pada masa Sinuhun Pakubuwana X (1989-1939), bisa sebagai pendiri atau ingkang mulyakaken ‘yang memuliakan’ yaitu dengan cara merenovasi kembali bangunan yang sudah ada.

Bangunan Sisi Barat

Pesanggrahan Masa Kini

Pesanggrahan ini terdapat di dalam area wilayah Grup 2 Kopassus. Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Pesanggrahan ini sebagai Cagar Budaya Situs Pesanggrahan Krapyak Giriwara sesuai Keputusan Bupati Sukoharjo Nomor 646/592 Tahun 2022. Hal ini telah meletakkan Pesanggarahan yang terdapat pada wilayah Grup 2 Kopassus sebagai Cagar Budaya yang dilindungi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Cagar Budaya

Adapun dalam hal Pemanfaatan Cagar Budaya ini, dari segi pengenalan bangunan telah dilaksanakan berbagai macam kegiatan oleh Grup 2 Kopassus, contohnya untuk Prajurit Grup 2 Kopassus seperti pelaksanaan Jam Komandan Grup maupun Batalyon, dan Kunjungan Kerja Pimpinan TNI AD atau Kopassus dan lain-lain. Sedangkan untuk Persit Kartika Chandra Kirana Grup 2 Kopassus seperti kegiatan harian, Kebudayaan, Kunjungan Kerja Ibu Ketua dan lain-lain. 

Tentu kita sebagai Bangsa yang besar bagian dari Grup 2 Kopassus sangat menghargai warisan budaya masa lalu. Sebagai bentuk tanggung jawab kita bersama, untuk melestarikan nilai-nilai budaya nenek moyang kita. Sebagai inspirasi bagi kelanjutan perjuangan kita dan menjauhkan terjadinya keterasingan Sejarah yang dapat mengakibatkan kemiskinan budaya.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *