ISRA’ MI’RAJ ; PERJALANAN SPIRITUAL NABI MUHAMMAD
Hai..hai Persit Kopassus..Bulan Rajab selalu membawa berkah, terutama dengan diperingatinya peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, sebuah perjalanan spiritual luar biasa yang menjadi bukti kekuasaan Allah SWT dan peneguhan iman bagi seluruh umat Islam, terutama di masa-masa penuh ujian.
Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian sekitar tahun 621 Masehi, yang dikenal dengan Amul Huzni atau tahun-tahun kesedihan Nabi Muhammad SAW karena istri beliau Sayyidah Khadijah dan pamannya Abu Thalib wafat. Setelah kehilangan orang-orang tercinta, Nabi Muhammad SAW menghadapi masa paling sulit dalam dakwahnya. Di saat itulah, Allah SWT memberikan penghiburan dan penguatan melalui Isra’ Mi’raj, sebuah peristiwa ajaib yang menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam dan memberikan fondasi kuat bagi ibadah umatnya.

Isra’ Mi’raj Merupakan Penggabungan Dua Peristiwa : Al Isra
Imam Bukhari mengisahkan bahwa saat Rasulullah SAW berada dalam keadaan tidur, malaikat Jibril datang, kemudian membelah dada Rasulullah SAW dan membersihkan hatinya menggunakan air zam-zam sebanyak empat kali, agar dipenuhi dengan iman- sesaat sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj.
Kata Al Isra (الإسراء) berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘perjalanan malam’ Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Para ulama menyatakan bahwa ketika Rasulullah SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam keadaan tidak tidur atau masih terjaga, dengan mengendarai Buraq (hewan tunggangan dari surga berwarna putih yang memiliki kecepatan seperti kilat).
Dalam perjalanannya bersama Malaikat Jibril, Nabi Muhammad SAW singgah sejenak di beberapa tempat dan melaksanakan shalat 2 rakaat. Kelima tempat tersebut adalah :
- Kota Madinah, karena malaikat Jibril menjelaskan bahwa tempat inilah kelak Nabi Muhammad SAW berhijrah.
- Kota Madyan, dimana tempat persembunyian Nabi Musa AS dari kejaran tentara Fir’aun.
- Thuur Sina, dimana tempat Nabi Musa AS berbicara langsung dengan Allah SWT.
- Baitul Lahm, tempat Nabi Isa AS dilahirkan.
- Tempat yang terakhir yaitu Masjidil Aqsha.

Isra’ Mi’raj Merupakan Penggabungan Dua Peristiwa : Al Mi’raj
Kata Al Mi’raj ( المعراج) dalam bahasa Arab berarti ‘kendaraan’, ‘alat untuk naik’, ataupun ‘tangga’, merupakan peristiwa di mana Allah SWT mengangkat Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Al Aqsa menuju Sidratul Muntaha untuk menerima wahyu secara langsung. Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon besar yang berada di langit ketujuh. Disebut muntaha (akhir) karena ia merupakan batas akhir dari sebuah perjalanan. Tidak ada satu makhluk pun yang pernah melewatinya kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW bersama Malaikat Jibril singgah di tujuh lapis langit, bertemu para nabi terdahulu :
- Langit pertama, bertemu dengan Nabi Adam AS
- Langit kedua, bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS
- Langit ketiga, bertemu dengan Nabi Yusuf AS
- Langit keempat, bertemu dengan Nabi Idris AS
- Langit kelima, bertemu dengan Nabi Harun AS
- Langit keenam, bertemu dengan Nabi Musa AS
- Langit ketujuh, bertemu dengan Nabi Ibrahim AS
Setelah bertemu dengan nabi-nabi terdahulu, Rasulullah SAW singgah untuk mengunjungi Baitul Makmur, tempat para malaikat beribadah.
Nabi Muhammad SAW Menerima Wahyu Perintah Shalat
Ketika berada di Sidratul Muntaha, Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW secara langsung untuk mengerjakan sholat, sebanyak 50 waktu dalam sehari. Rasulullah SAW kemudian turun ke langit keenam, bertemu Nabi Musa dan bertanya kepada Rasulullah SAW “Apa yang dikatakan oleh Allah SWT untukmu?” Lalu beliau menjawab “Sholat 50 waktu dalam sehari semalam.” Kemudian Nabi Musa menjawab “Kembalilah dan minta keringanan kepada Tuhanmu, karena sungguh umatmu lemah dan tidak akan sanggup melakukannya.” Setelah itu, Nabi Muhammad SAW kembali menemui Allah SWT untuk meminta keringanan berkali-kali hingga menjadi 5 waktu dalam sehari semalam.

Keutamaan Peristiwa Isra’ Mi’raj Bagi Umat Muslim
Isra’ Mi’raj memiliki banyak keutamaan dalam Islam, yang jika dipahami dengan kesucian hati setiap umat Islam dapat memperteguh keimanan kepada Allah SWT. Beberapa keutamaan tersebut adalah :
- Menjadi Bukti Kebesaran Allah SWT
Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah murni kekuasaan Allah SWT, sang pemilik Alam Semesta yang Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak, yang tak bisa dinalar oleh akal manusia. Jarak dari Kabah di Mekkah sampai ke Masjidil Aqsa di Yerusalem adalah sangat jauh, atau sekitar 1.239 kilometer. Rasanya tidak mungkin bagi manusia biasa dapat menempuh perjalanan tersebut selama satu malam. Hal ini sesuai dengan QS Al-Isra ayat 1 :
”Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

- Menjadi Bukti Kenabian Rasulullah SAW
Rasulullah Muhammad SAW adalah satu-satunya manusia yang pernah melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj. Peristiwa ini sekaligus menjadi bukti bahwa Rasulullah SAW adalah utusan Allah SWT yang membawa kebenaran bagi umat Islam di dunia. Juga menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad SAW sebagai Sayyidul Anbiya (pemimpin para nabi). Beliau mendapatkan kehormatan untuk menghadap Allah secara langsung.
- Menegaskan Urgensi Ibadah Shalat Bagi Umat Muslim
Perintah ibadah lain bagi umat muslim, seperti puasa dan zakat diturunkan melalui perantara wahyu (Malaikat Jibril) di bumi, sedangkan perintah shalat Allah sampaikan langsung kepada Rasulullah SAW di langit ketujuh. Ini menandakan bahwa salat adalah tiang agama yang tidak boleh kita tinggalkan dalam kondisi apa pun.
Isra’ Mi’raj menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar sejarah, melainkan mukjizat kebesaran Allah SWT dan pengingat abadi akan kewajiban shalat lima waktu, sumber ketenangan batin, dan penguat keimanan, mengajarkan umat Islam untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya di tengah kesulitan dan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan sempurna dalam menjalani kehidupan penuh makna.
