Kebiasaan Sederhana Yang Membantu Keluarga Tetap Bahagia dan Harmonis

Screenshot

Pengertian keluarga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ibu dan bapak beserta anak-anaknya. Fungsi keluarga pada umumnya adalah membentuk kepribadian anak. Dalam keluaga anak dididik dan orang tua memberikan nilai-nilai (ajaran-ajaran) yang berguna dan anak menerima nilai-nilai yang diwariskan oleh orangtuanya demi perkembangan dirinya. Perkembangan kepribadian anak tidak dapat dipisahkan dari keadaan keluarga. Keluarga adalah tempat pertama anak bertumbuh dan berkembang.

Keluarga dikatakan harmonis bila antara anggota keluarga hidup penuh cinta dan saling mendukung. Orangtua dan anak saling mencintai satu sama lain. Tidak ada sikap egois dan mementingkan diri sendiri.

Keharmonisan keluarga sering kali dianggap lahir dari momen besar, seperti liburan bersama atau perayaan tertentu. Sebetulnya, suasana rumah yang hangat justru lebih banyak dibentuk oleh kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Tanpa disadari, hal-hal sederhana di rumah bisa menjadi penentu apakah anggota keluarga merasa nyaman, dihargai, dan aman secara emosional. Kebiasaan ini kerap terlihat sepele, tetapi dampaknya sangat terasa dalam jangka panjang.

Sayangnya, banyak keluarga fokus memperbaiki hubungan hanya saat konflik muncul. Padahal, menjaga keharmonisan bisa dimulai jauh sebelum masalah datang.

Dengan membangun kebiasaan kecil yang konsisten, keluarga bisa menciptakan ikatan yang lebih kuat tanpa harus usaha yang rumit.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga keluarga tetap harmonis…

  1. Menciptakan rasa aman emosional
    Rasa aman emosional adalah fondasi keluarga yang sehat, termasuk dalam keluarga TNI yang kerap menghadapi dinamika tugas dan penugasan. Ketika anggota keluarga merasa diterima, tidak dihakimi, dan dihargai perasaannya, mereka akan lebih terbuka dan nyaman menjadi diri sendiri.
    Ucapan sederhana seperti “Aku di sini untukmu” atau menyampaikan dukungan sebelum dan selama penugasan “Kami bangga dan mendoakanmu” membantu membangun rasa aman tersebut.
  2. Saling Menyapa dan Bertanya Kabar
    Ucapan “selamat pagi”, “hati-hati”, atau “gimana perasaanmu hari ini?” bisa membuat setiap anggota keluarga merasa diperhatikan. Selain itu, bukan sekadar bertanya, tapi juga mendengar keluh kesah atau hanya sekedar bertukar cerita tanpa menghakimi. Kadang yang dibutuhkan hanya didengar, bukan dinasihati. Mendengar bukan hanya soal telinga, tapi juga sikap. Kontak mata, bahasa tubuh yang terbuka, dan tidak memotong pembicaraan membuat lawan bicara merasa dihargai.

    Dalam keluarga, kebiasaan mendengarkan membantu mencegah salah paham dan memperkuat ikatan emosional.
    Contoh kegiatan:
    • Video call singkat sebelum atau sesudah apel
    • Mendengarkan cerita anak tanpa membandingkan dengan disiplin militer
  3. Luangkan Waktu Berkualitas
    Waktu bersama keluarga TNI sering terbatas, maka kehadiran penuh menjadi kunci. Tak harus liburan mahal. Menonton film, ngobrol santai, berolahraga bersama atau minum teh bersama sudah cukup untuk mempererat hubungan. Waktu berkualitas bukan soal durasi, tapi kehadiran penuh dalam momen tersebut. Aktivitas sederhana seperti sarapan bersama sebelum berangkat dinas, berbincang sebelum tidur, mengajari anak bersepeda, mengantar anak sekolah jika jadwal memungkinkan, dan mengobrol santai di teras rumah dapat memperkuat ikatan emosional keluarga.

    Kehadiran yang utuh memberi pesan penting: “Kamu berarti.”
  4. Makan Bersama Tanpa Gadget
    Luangkan waktu singkat tapi penuh cerita, tawa, dan kebersamaan. Walau sebentar, momen makan bersama adalah ruang aman untuk bercerita, tertawa, dan saling mendengar. Matikan gadget, fokus pada kebersamaan walau hanya 15 menit.
  5. Biasakan Mengucapkan Terima Kasih dan Maaf
    Kata sederhana ini menjaga hati tetap lembut dan mencegah masalah kecil jadi besar.
    Mengakui kesalahan bukan tanda kalah, tapi bentuk kedewasaan. Maaf yang tulus dapat mencegah luka kecil yang bisa membuat ruang jarak emosi yang panjang. 

    Contoh kegiatan :
    • Mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan dukungan pasangan selama tugas
    • Meminta maaf jika meluapkan amarah karena pelampiasan dari tekanan pekerjaan
    • Mengajarkan anak untuk berani mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan
  6. Saling Menghargai Perbedaan
    Setiap anggota keluarga punya aturan, cara komunikasi, prioritas, kondisi, keterbatasan dan kelebihannya masing-masing. Menghargai perbedaan ini membantu menciptakan suasana rumah yang nyaman, aman dan penuh rasa hormat serta sebagai kunci kedamaian. Terlebih, peran dan tekanan di keluarga TNI berbeda-beda, namun semua sama pentingnya.

    Contoh kegiatan :
    • Menghargai peran dan tanggung jawab suami/istri tanpa menimbang dan membanding2kan pengorbanan dan usaha masing-masing
    • Mengajak anak berdiskusi, bukan hanya memberi perintah
    • Memahami bahwa rumah bukanlah kedinasan, rumah harus menjadi tempat bertumbuh dan berkembang yang penuh kasih sayang

Menjadi keluarga TNI berarti siap dengan disiplin, pengabdian, dan pengorbanan. Kebahagiaan dan keharmonisan keluarga tidak lahir dari kesempurnaan, namun keharmonisan tetap tumbuh dari kebiasaan sederhana yang lahir dengan empati dan kasih sayang. 


Ketika keluarga menjadi tempat pulang yang aman secara emosional, tugas seberat apa pun terasa lebih ringan. Sebagai pendamping prajurit TNI, kita bisa memberikan dukungan dengan cara memastikan kesehatan seluruh anggota keluarga sehat secara fisik dan mental. Namun, tak lupa juga untuk tetap selalu menjaga kualitas dari hubungan antara suami dan istri. Sering kali, saat kita dikaruniai seorang anak, kita lupa untuk tetap menjaga keharmonisan hubungan suami istri, kita lupa bahwa setiap hubungan harus ada usaha dari kedua belah pihak untuk tetap menjaga api cinta agar tak padam. 

Perkembangan emosional seorang anak adalah hasil dari apa yang ia lihat dan pelajari dirumah, bagaimana ibunya memperlakukan ayahnya, dan sebaliknya. Kedewasaan dalam menjaga pernikahan juga dibutuhkan, karena anak akan selalu melihat dan menjadikan contoh dari bagaimana hubungan kedua orang tuanya yang ia lihat sehari-hari. 

Menjadi orang tua adalah proses belajar yang paling panjang, bukan hanya kemampuan untuk membesarkan anak secara fisik, namun kita bertanggung jawab seumur hidup untuk menjadi contoh atau figur seorang anak agar ia tumbuh menjadi anak yang berkualitas, demi generasi yang lebih hebat.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *